LABORATORIUM

Sejak berdirinya Fakultas Kehutanan UGM (FKT) di tahun 1963, Bagian Teknologi Kehutanan (BTK) sudah terbentuk bersama dengan 2 bagian lainnya. Saat itu telah dibentuk Laboratorium Struktur dan Sifat Kayu (LSSK) yang berlokasi di Jl Sekip (lantai dasar). LSSK tersebut melengkapi mata kuliah Ilmu Kayu yang diampu oleh Prof. Soenardi Prawirohatmodjo dengan menitikberatkan praktikum pada sifat anatomi dan fisika kayu.  Untuk melengkapi LSSK, di tahun 1970 FKT-UGM memperoleh sumbangan peralatan dari Rockefeller Foundation (Amerika Serikat) di kampus utama Jl. Agro untuk penelitian dan praktikum sifat kimia kayu. Pada tahun 1972, terjadi kebakaran di LSSK yang bertempat di Sekip sehingga mengakibatkan gangguan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Di tahun 1972-1973, dari bantuan berbagai pihak yang dikoordinasi oleh Dep. Kehutanan, didirikan bangunan-bangunan baru di lingkungan kampus FKT, termasuk laboratorium-laboratorium di BTK. laboratorium.

Selanjutnya di tahun 1975, peralatan uji mekanika kayu dipindahkan ke FKT yang sebelumnya masih berada di kampus Fak. Pertanian UGM sehingga LSSK menjadi lebih memadai fasilitasnya. Di tahun 1976, peralatan LSSK yang berada di Sekip dipindahkan ke kampus utama sehingga mulai tahun tersebut semua aktivitas penelitian dan praktikum dipusatkan di kampus FKT di Jalan Agro.

 

    

Suasana praktikum di kelas/laboratorium

 

Semakin berkembangnya ilmu teknologi kayu serta mengantisipasi dinamika di industri perkayuan, di tahun 1977 dibentuk 3 seksi (lab) yaitu Seksi Struktur dan Sifat Kayu (SSSK) yang diketuai Prof. Soenardi Prawirohatmodjo, Seksi Pengolahan Hasil Hutan (SPHH) yang diketuai Ir. Mochamad Yusuf serta Seksi Pengeringan dan Pengawetan Kayu (SPPK) yang diketuai oleh Ir. Haryanto Yudodibroto. Hal tersebut juga tidak lepas dari penambahan staf baru di JTK pada sejak 1970-an serta adanya penambahan fasilitas lab maupun peralatan dari berbagai sumber yang telah disebutkan di atas. Di tahun 1983, BTK berganti menjadi Jurusan Teknologi Hasil Hutan (JTHH). Di tahun 1988, dibangun fasilitas unit pengolahan kayu (UPK) yang berada di Klebengan atas sumbangan dari Depnaker melalui dana reboisasi. Bangunan tersebut cukup luas (sekitar 0,2 ha) dengan dilengkapi peralatan penggergajian, pengeringan, pengawetan, pengerjaan kayu serta pengolahan produk-produk perekatan.

 

    

Unit Pengolahan Kayu Klebengan                          Bengkel Pengolahan Kayu

 

Seiring dengan penambahan fasilitas, di tahun 1990, SSSK dipecah menjadi 3 laboratorium yaitu Laboratorium Struktur dan Anatomi, Laboratorium Fisika dan Mekanika, dan Laboratorium Kimia Kayu.  Pada saat bersamaan SPHH menjadi Laboratorium Pengolahan Kayu sedangkan SPPK menjadi Laboratorium Pengeringan dan Pengawetan Kayu sehingga keseluruhan terdapat 5 laboratorium. Selanjutnya, untuk penguatan keilmuan, di tahun 1995, Laboratorium Pengolahan Kayu dipecah menjadi menjadi 3 yaitu menjadi Laboratorium Hasil Hutan Non-Kayu dan Laboratorium Energi Kayu, yang berbasis di kampus FKT serta Laboratorium Penggergajian dan Papan Majemuk yang berbasis di UPK Klebengan. Laboratorium Kimia Kayu menjadi menjadi Laboratorium Kimia dan Pulp Kayu, sedangkan Laboratorium Struktur dan Anatomi digabung dengan Laboratorium Fisika dan Mekanika menjadi Laboratorium Struktur dan Sifat Kayu. Laboratorium Pengeringan dan Pengawetan Kayu tidak mengalami perubahan nama. Dengan demikian, keseluruhan lab di DTHH berjumlah 6 di tahun tersebut.

 

   

Pelatihan finisihing kayu pada kegiatan pengabdian pada masyarakat

 

Fasilitas lab di DTHH menjadi semakin lengkap di tahun 2004 dimana terdapat sumbangan gedung 6 tingkat beserta peralatannya di setiap lab melalui skema bantuan Establishment of the Overseas Economic Cooperation Fund (OECF) dari Jepang. Sejak itu, DTHH dan laboratoriumnya di FKT menempati gedung baru di lantai 1 sampai 3, ditambah dengan bengkel pengolahan kayu di lantai dasar sedangkan bangunan lama difungsikan peruntukan lain. Di tahun 2006, di UPK Klebengan dibangun secara terpisah fasilitas untuk pengolahan pulp, pengeringan dan pengawetan kayu yang sebelumnya masih berada di dalam ruangan UPK. Di tahun 2009, terdapat penambahan fasilitas peralatan melalui skema hibah Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) dari DIKTI. Secara fomal, perbaharuan surat keputusan laboratorium di DTHH terakhir adalah dengan SK Rektor No. 375/P/SK/HT/2011 tertanggal 15 Agustus 2011.

 

      

Pelatihan identifikasi kayu untuk perajin kayu lokal pada kegiatan pengabdian pada masyarakat

 

Pada awal tahun 2016, dilakukan restrukturisasi lab sehinga terdapat 2 lab dasar dan 3 lab keilmuan. Perubahan ini menyesuaikan Peraturan Rekor no 5/P/SK/HT/2015 dan diformalkan dalam Keputusan Rektor No:  42/UN1.P/SK/HUKOR/2016. Lab Keilmuan menyelenggarakan Tridharma Perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Lab keilmuan ini terdiri dari :

1. Lab Pembentukan dan Peningkatan Kualitas Kayu, mempunyai 2 sub-lab yaitu  Anatomi Kayu dan Fisika Kayu

2. Lab Konversi Kimia Bomaterial, mempunyai 3 sub lab yaitu : Kimia dan Serat Kayu, Hasil Hutan Non Kayu, dan Energi Kayu.

3. Lab Rekayasa Biomaterial, mempunyai 2 sub lab yaitu : Teknologi Papan Majemuk  serta Pengeringan dan Pengawetan Kayu.

Lab dasar dimaksudkan untuk menyelenggarakan praktikum di tingkat dasar untuk mahasiswa prodi Kehutanan maupun Departemen Teknologi hasil Hutan. Adapun  2 lab dimaksud adalah :

1. Lab. Sifat Dasar Kayu

2. Lab. Pengolahan Hasil Hutan

 

  

   Praktikum uji secara spektroskopis (spektro UV-vis dan GC-MS)